Sunday, June 21, 2015

Kamu.....tapi kamu....

Kamu yang pertama melempar senyuman tapi kamu yang membuang muka kemudian

Kamu yang memberi perhatian tapi kamu yang tiba-tiba mengacuhkan

Kamu yang menciptakan harapan tapi kamu yang meretakkan asa dan impian

Kamu yang mengajak bergandengan tapi kamu yang melepaskan

Kamu yang bilang untuk saling jaga perasaan tapi kamu memberi luka mendalam

Kamu yang menggenggam untuk jalan beriringan tapi kamu yang berpisah jalur didepan

Kamu yang meyakinkan tapi kamu yang meninggalkan

Kamu yang bilang kita akan saling bertahan tapi kamu yang menyerah duluan

Kamu lucu ya, melupakan kenangan secepat membuang pandangan.

Wednesday, December 17, 2014

The Keeper

You were like a dream,
I wish I hadn't
slept through.

Within it I fell deeper,
than your heart would
care to let you.

I thought you were a keeper,
I wish I could
have kept you.

Friday, August 29, 2014

Untuknya.

Angin sempat berbisik kepadaku,
“Rindukah kamu pada untaian kata manis yang menjadi pengantar tidurmu setiap malam kala itu?”
Aku sempat menggeleng kemudian terdiam.
Ada yang disembunyikan dari hati ini. Ingin segalanya enyah, tapi ternyata tidak semudah itu.

Dan kemudian rintik hujan bernyanyi,
“Kamu rindu, hanya saja kamu menghukum diri sendiri untuk tidak melakukannya.”
Dan aku hanya bisa menelan ludah.

Aku selalu tahu bahwa akan ada yang terluka dari setiap peristiwa. Apapun itu. Dan kali ini aku mengutuk diri bahwa akulah yang akan menjadi pemeran paling memilukan dalam kisah ini.

Ada rasa yang ingin sekali dihapus, seperti dengan mudahnya menghapus bait puisi tentang dirinya pada catatan kecil ini. Hanya saja, kenangan dengannya yang indah membuat aku sedikit enggan untuk melupa.

Dia mungkin bukanlah seorang yang baik hati yang memberi seluruh miliknya untuk aku, tapi paling tidak dia sempat menjadi alasan aku untuk tersenyum dan semangat menjalani hari.


Pada saat ini aku hanya bisa melihatnya jalan menjauh dari pandangan. Berdoa dalam setiap derap langkah kakinya bahwa ia akan menuju titik yang memberinya bahagia. Walau bukan bertuju  kepadaku, setidaknya aku pernah berjalan disampingnya diiringi tawa dan canda. 

Thursday, June 5, 2014

Racauan

Tulisan ini ditulis ketika diri sudah tidak sanggup lagi menahan segala kekecewaan yang melanda.

Ini bukan tentang bagaimana menerima takdir dan kemudian pasrah terhadap apa yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

Ini hanya tentang hati yang mulai tidak mengerti permainan apalagi yang harus dijalani.

Bukan tentang kamu, yang datang dan pergi sesuka hati. Sungguh, kamu bukan yang pertama kali memperlakukan aku seperti itu.

Terlalu banyak tanda tanya besar yang menggema daalam otak dan kemudia bersarang menjadi penyakit, hanya takut kemudia otak ini lama kelamaan tidak akan pernah lagi berkompromi dengan hati karena terlalu sering mengalami racauan yang menyakitkan.

Orang bilang hidup tentang belajar bagaimana mengambil hikmah dari setiap perkara. Kalau sudah berulang kali menghadapi masalah yang sama dan berakhir dengan naas seperti sebelumnya, itu bagaimana? Padahal dirasa sudah memperbaiki dari kejadian sebelumnya.

Bukan berarti mengeluh kepada Sang Pencipta, hanya saja, mungkin sedang pada titik lemah yang ada menimpa diri. Karena terus melengkungkan senyum tanpa memperdulikan hati yang perlu ditata kembali pun memilukan.

Selalu ada yang perlu dibenahi dari hidup setiap detiknya, bukan?

Mungkin ini yang namanya kecewa pada diri sendiri karena tidak juga berangsur membaik. Hanya takut kemudian menjadi antipati dan tidak ingin berurusan lagi. Karena takut mengalami seperti yang sebelumnya.
Seperti saat ini, baru akan dimulai, tapi sudah memvonis akan berakhir seperti yang lalu-lalu.


Sudahlah, hati dan otak ini selalu saja meracau pada waktu yang tidak tepat.
Finger Peace Sign